Rabu, 24 Maret 2010

FIELD TRIP KE PUSAT PENELITIAN KOPI KAKAO DI JEMBER


Kakao (Theobroma cacao, L) merupakan salah komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi sumber pendapatan harian atau mingguan bagi pekebun.
Tanaman kakao berasal dari daerah hutan hujan tropis di Amerika Selatan. Di daerah asalnya, kakao merupakan tanaman kecil di bagian bawah hutan hujan tropis dan tumbuh terlindung pohon-pohon yang besar. Oleh karena itu dalam budidayanya, tanaman kakao memerlukan naungan.
Sebagai daerah tropis, Indonesia yang terletak antara 6 LU - 11 LS merupakan daerah yang sesuai untuk tanaman kakao. Namun setiap jenis tanaman mempunyai kesesuian lahan dengan kondisi tanah dan iklim tertentu, sehingga tidak semua tempat sesuai untuk tanaman kakao, dan untuk pengembangan tanaman kakao hendaknya tetap mempertimbangkan kesesuaian lahannya. Sebagai tananam yang dalam budidayanya memerlukan naungan, maka walaupun telah diperoleh lahan yang sesuai, sebelum penanaman kakao tetap diperlukan persiapan naungan. Tanpa persiapan naungan yang baik, pengembangan tanaman kakao akan sulit diharapkan keberhasilannya. Oleh karena itu persiapan lahan dan naungan, serta penggunaan tanaman yang bernilai ekonomis sebagai penaung merupakan hal penting yang perlu diperhatikan dalam budidaya kakao. Syarat tanaman yang digunakan sebagai tanaman penaung adalah tahan cuaca panas, memiliki bintil akar, dan dapat hidup di setiap musim.
Pada tempat Pusat Penelitian Kopi Kakao di Jember, tanaman penaung yang biasanya digunakan adalah Moghania macrophylla sebagai penaung sementara dan Lamtoro atau Glirisidia sebagai penaung tetap. Untuk dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik, tanaman kakao menghendaki lahan yang sesuai, yang mempunyai keadaan iklim dan keadaan tanah tertentu. Keadaan iklim yang sesuai untuk tanaman kakao, antara lain:
1.    curah hujan cukup dan terdistribusi merata dengan jumah curah hujan 1500-2500 mm/th, dan bulan kering tidak lebih dari 3 bulan.
2.    Suhu rata-rata antara 15-30 C, dengan suhu optimum 25,5 C. Fluktuasi suhu harian tidak lebih dari 9 C.
3.    Tidak ada angin bertiup kencang.
4.    Keadaan tanah yang dikehendaki tanaman kakao antara lain memiliki solum tanah dalam (>150 cm).
5.    Tekstur dan struktur tanah baik, sehingga tanah mempunyai daya menahan air, aerasi, dan drainase yang baik.
6.    pH tanah antara 6 – 7.
7.    Kandungan bahan organik tidak kurang dari 3%.
8.    Kandungan unsur hara cukup tinggi
Persiapan lahan dan naungan sebaiknya sudah dilakukan satu tahun sebelum tanamankakao ditanam, sehingga pada saat bibit kakao ditanam, tanaman penaung di lapangan sudah tumbuh dengan baik dan siap berfungsi sebagai penaung kakao. Pada awalnya tanaman penaung tetap ditanam dengan jarak sesuai dengan jarak tanam kakao yaitu 3x3 m, dan selanjutnya populasinya dikurangi secara sistematis dan bertahap, yaitu pada saat tanaman kakao berumur 4 tahun didongkel 25%, dan pada saat kakao berumur 5 tahun didongkel lagi 25%. Lubang tanam untuk menanam kakao adalah 60 x 60 x 60cm (min top soil). Untuk lahan seluas 1 hektar dapat di tanami sebanyak 1100 tanaman.
Moghania macrophylla ditanam satu tahun sebelum tanam kakao, dengan menggunakan benih sekitar 20-30 kg/ha, dan ditanam sebagai barisan arah utara-selatan dengan jarak antar barisan sesuai dengan jarak tanam kakao. Diharapkan pada saat tanam kakao sudah ditanam dilahan lamanya sinar matahari yang masuk lorong tempat tanaman kakao ditanam adalah pada jam 11.00-13.00. Tanaman Moghania macrophylla dapat disiwing sehingga lorong menjadi lebih longgar. Setiap tahun pada awal musim hujan dapat dipotong sampai ketinggian 10 cm dari permukaan tanah. Pada saat tanaman kakao berumur 4 tahun atau pada saat tajuk kakao sudah saling menutup, tanaman penaung sementara Moghania macrophylla ini didongkel seluruhnya.
Lamtoro (Leucaena sp) ditanam bersamaan dengan saat menanam naungan sementara, yaitu satu tahun sebelum tanam kakao. Bahan tanaman berupa stek panjang 1,5 m dan diameter sekitar 5 cm, atau berupa cangkokan dengan panjang sekitar 1 m.
Tanaman kakao perlu dilakukan pemangkasan setiap 2 bulan sekali. Hal ini dilakukan agar tanaman dapat berbuah dengan baik.
Pengendalian hama penyakit dilakukan  dengan penyemprotan pestisida sebanyak dua tahap. Penyemprotan pertama dilakukan untuk mencegah terserangnya hama dan penyakit lalu penyemprotan yang kedua dilakukan untuk pemberantasan hama dan penyakit yang meyerang. Selain dengan pestisida, pengendalian hama juga menggunakan musuh alami seperti jika terserang kutu putih maka musuh alami yang digunakan adalah semut hitam. Biasanya penyakit yang menyerang tanaman kakao adalah penyakit pembuluh kayu.
Pemupukan dilakukan setelah tanaman kakao berumur 2 bulan di lapangan. Pemupukan yang dilakukan pada tanaman yang belum menghasilkan dilakukan dengan cara menaburkan pupuk secara merata dengan jarak 15cm - 50cm (untuk umur 2-10 bulan) dan 50cm – 75cm (untuk umur 14-20bulan) dari batang utama. Untuk tanaman yang telah menghasilkan, penaburan pupuk dilakukan pada jarak 50cm – 75cm dari batang utama dengan membuat lubang pada kanan-kiri tanaman yang di isi pupuk kandang, kulit buah kakao, seresah/hijauan hasil pemangkasan.
Pada pembibitan yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kopi Kakao, jumlah bibit yang ditanam pada lahan sebanyak 1500/Ha. Untuk mendapatkan bibit yang baik, hal yang perlu di lakukan adalah prosesing benih dimana setelah panen buah kakao dipecah kulitnya dan dikeluarkan bijinya. Setelah itu pengupasan daging buah dilakukan dengan merendamnya terlebih dahulu pada air kapur agar daging buah mudah untuk dilepas. Setelah daging buah terlepas semua, benih dicuci dengan air bersih dan dikering anginkan. Kemudian benih direndam kembali dengan larutan fungisida dan dikering anginkan lagi sebelum akhirnya dikemas dalam kantung plastik untuk dikirimkan. Setelah dikemas dalam kantung plastik, benih dimasukkan ke dalam kardus yang telah diisi oleh sekam padi. Ini bertujuan agar suhu dalam kardus saat pengiriman tetap stabil. Setiap kardus berisi sekitar 5000 benih. Harga jual per benih adalah Rp 400. Setelah mendapat perlakuan seperti yang telah dijelaskan di atas, benih memiliki ketahanan selama 7 hari sebelum benih tersebut berkecambah.
Selain dijadikan untuk pembenihan, pada Pusat Penelitian Kopi Kakao juga mengolah hasil panen baik kopi maupun kakao menjadi berbagai makanan dan minuman yang sangat lezat.

1 komentar: