Setiap kali melakukan perjalanan jauh terutama saat pulang kampung ada aja peristiwa yang bikin saya gak bisa lupain. Pengalaman pulang kampung kali ini adalah perjalanan terlama yang pernah saya alami selama melakukan perjalanan Malang - Cirebon. Jasa transportasi yang saya gunakan adalah Kereta Api Matarmaja Jurusan Malang - Pasar Senen dengan kode KA 113.
Cerita ini dimulai pada saat melakukan pemesanan tiket pada tanggal 15 Februari 2013. Saya memesan tiket untuk keberangkatan hari jum'at tanggal 22 Februari 2013 dengan tarif Rp.51.000 untuk tujuan Cirebon. Perjalanan ke cirebon ini sudah lama saya rencanakan tapi yang bikin saya ragu2 adalah pilihan transportasinya. Awalnya saya berniat buat naik bis karena banyak pilihan, tapi berhubung kondisi keuangan yang menipis (maklum masih anak kos) akhirnya dengan sangat terpaksa beli tiket kereta ekonomi. Untuk jadwal keberangkatan awalnya saya bingung antara tanggal 22 atau tanggal 23 soalnya ada acara yang tidak bisa di prediksi pelaksanaanya di Malang pada hari sebelumnya. Tapi nekat aja udah saya beli tiket buat tanggal 22 Feb.
Kamis 21 Februari 2013 atau tepatnya H-1 menjelang keberangkatan semua barang2 yang mau dibawa udah di kemas2 masuk tas, tinggal angkut aja. Tapi gak tau kenapa ada perasaan aneh dan masih ragu2 buat nglakuin perjalanan besok. Akhirnya saya telfon ortu buat ngasih tau kalo besok hari Jum'at jadi berangkat dari malang naik kereta jam 14.50 dan seperti biasa nyampe cirebon hari sabtu pagi sekitar jam 07.00.
Jum'at 22 Februari 2013 setelah selesai sholat jumat jam 13.00 saya putuskan untuk berangkat ke Stasiun Malang. Sebelum berangkat ke stasiun saya pamitan dulu sama bu kos sekalian nitipin motor. Setelah beres, langsung saya nyari angkot buat ke stasiun. Angkot yang saya naiki adalah angkot jalur ADL dari terminal Landungsari Malang. Tepat jam 13.30 angkot baru berangkat pelan2 banget. Nyampe di Stasiun Malang jam 14.30 gila lama banget di angkot aja udah 1 jam sendiri.. Ya, soalnya banyak titik2 macet trus juga angkotnya jalannya kayak keong. Akhirnya, setelah nyampe stasiun saya langsung masuk dengan menunjukkan tiket dan KTP asli ke petugas jaga. Sambil nunggu kereta lansir saya nikmatin suasana stasiun yang saat itu lumayan rame, mungkin weekend jadi banyak yang bepergian. Tepat jam 14.40 kereta yang akan saya naikin lansir. Semua penumpang dipersilahkan naik. Saat itu saya dapet nomer tiketnya K3-6 16E. Tepat jam 14.50 KA Matarmaja diberangkatkan dari stasiun malang. Gerbong yang saya naiki masih sekitar 25% penumpangnya.
Melewati stasiun2 kecil kadang kereta berhenti buat silang dengan kereta lain. Masuk stasiun Blitar jam 17.00 seperti biasanya. Sejauh ini semuanya tepat waktu. Melewati kota-kota setelahnya yaitu Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Madiun. Dari Stasiun Madiun gerbong yang saya naiki sudah terisi hampir 80%. Kemudian kereta melanjutkan perjalanan menuju Solo dan sekali lagi semuanya sesuai jadwal dan tidak ada kendala. Setelah kereta berangkat dari stasiun Solo Jebres akan menuju Semarang barulah problem itu muncul. Selama perjalanan dari Solo menuju Semarang saya sempat tertidur dan tiba2 kereta berhenti di sebuah stasiun kecil bernama Stasiun Tanggung sekitar jam 23.30. karena ngantuk banget saya gak terlalu peduli karena biasanya kereta berhenti di stasiun kecil itu hanya untuk silang menunggu kereta lain, begitu juga dengan penumpang lain, tidak ada yang curiga kenapa kereta berhenti karena hampir semua penumpang tertidur, selain itu juga tidak ada pemberitahuan apa2 dari petugas kereta. Setelah hampir 2 jam kereta berhenti barulah semua penumpang mulai penasaran apa yang terjadi karena tidak seperti biasanya kereta berhenti lama di stasiun kecil. Waktu paling lama ketika kereta berhenti untuk silang dengan kereta lain normalnya adalah 30 menit, itupun sudah telat sekali.
![]() |
| Stasiun Tanggung Wilayah DAOP IV Semarang |
Selama berhenti di stasiun tersebut banyak penumpang yang turun untuk k toilet maupun ada yang sekedar berjalan-jalan untuk meregangkan badan karena sudah duduk lama. Dan sekali lagi belum ada informasi apa2 dari petugas stasiun maupun petugas kereta api. Hari Sabtu 23 Februari 2013, waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari tapi belum ada tanda2 kereta akan diberangkatkan dari stasiun itu. Ada seorang penumpang yang menanyakan kepada petugas kereta sebenarnya apa yang terjadi karena tidak biasanya kereta berhenti sampai berjam-jam di stasiun kecil, tapi jawaban petugas itu sungguh sangat tidak memuaskan, petugas itu hanya menjawab dengan kata "tidak tau pak".. Akhirnya semua penumpang mulai turun dari kereta karena menyadari ada yang gak beres. Beberapa saat kemudian kepala stasiun itu muncul dan langsung di serbu pertanyaan oleh para penumpang. Kepala stasiun itu menjelaskan katanya kereta tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Semarang karena stasiunnya kebanjiran dan relnya tergenang air sampai 1 meter. Jadi, bahaya jika kereta memaksakan lewat. Kebijakan yang diberikan oleh pihak Kereta Api untuk mengatasi masalah itu adalah hanya menunggu air surut dan tentu saja bisa di pastikan waktunya tidak dapat di prediksi kapan air itu surut. Akhirnya, para penumpang hanya bisa menunggu.
![]() |
| Penumpang-penumoang yang terdampar |
Waktu terus berjalan, dan jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi tapi belum ada titik terang kapan kereta bisa melanjutkan perjalanan. Sempat terlintas niat saya ingin melanjutkan perjalanan dengan angkutan lain yaitu bis. Tapi, melihat lokasi Stasiun Tanggung ini yang jauh dari jalan raya, hanya ada sawah2 dan kebon2 tanaman Jati. Saya coba cari2 informasi gimana caranya kalo mau ke Semarang naik bis dari stasiun ini. Tanya ke petugas stasiun katanya masih sangat jauh kalo mau ke terminal Terboyo Semarang, harus ngojek dulu sampe jalan raya, trus naik bis ke Terboyo, trus naik bis lagi ke Mangkang, baru dari mangkang ada bis yang ke Cirebon. Wah kalo di pikir2 kluar biaya ekstra. dan bisa jadi waktunya lebih lama. Saya juga komunikasi dengan ortu di rumah dan cerita kondisi yang terjadi, ortu juga nyaranin naik bis aja tapi setelah saya ceritain gimana kalo naik bis akhirnya ortu bilang buat nunggu aja di lokasi dulu. Karena katanya ortu di rumah yang lagi nonton berita di TV kalo Semarang lagi banjir, gak cuma stasiun aja yang kebanjiran, terminalnya juga kebanjiran. OK lah.... Mantap sekali Semarang ini kalo udah banjir....
Para penumpang sudah mulai banyak yang emosi karena tidak ada kejelasan, hanya terus-terusan disuruh menunggu. Banyak penumpang yang memprotes keputusan itu karena di anggap tidak masuk akal. Menunggu tanpa ada kejelasan, pihak kereta api menilainya ini merupakan peristiwa alam jadi diluar kewenangan. Akhirnya, terjadi adu mulut antara kepala stasiun dengan salah seorang penumpang yang disaksikan oleh saya dan penumpang lainnya, kurang lebih seperti ini.
Penumpang = P
Kepala Stasiun =K
P : "Pak, sampai kapan ini kita menunggu??"
K: " Maaf pak, kita juga belum bisa memastikan, karena air masih tinggi di Semarangnya.."
P: "Ya, tapi masa gak ada penanganannya, kalo gini kita sama aja di telantarkan.. kita sudah bayar pak, paling gak ada solusinya yang jelas. Apa kek, uangnya di kembalikan atau di sediakan angkutan lain. Ini kita buang2 waktu percuma pak."
K: "Ya pak kita ngerti, tapi ini kejadian alam, dan ini diluar wewenang kami.."
Kurang lebih seperti itulah percakapan mereka.
Jam 10.30 akhirnya kepala stasiun menginformasikan kepada kami kalau kereta akan ditarik lokomotif khusus untuk melewati banjir, tapi itu gantian karena lokomotifnya hanya ada 1 sedangkan di depan kereta kami masih ada kereta lain yang juga akan lewat. Jadi, sama aja masih belum ada kepastian, kapan kereta kami akan ditarik loko tersebut. Dan keputusan itu bukan membuat para penumpang tenang, malahan penumpang makin emosi. Sampai ada salah seorang penumpang yang memaki-maki. Akhirnya, kepala stasiun mencoba komunikasi dengan stasiun semarang dan stasiun solo untuk minta ijin kereta berjalan putar arah menuju solo kembali dan dilanjutkan untuk melewati jalur selatan. Akhirnya, keputusan itu di informasikan kepada semua penumpang bahwa kereta akan melanjutkan perjalanan melalui jalur selatan dari Solo dan penumpang yang akan turun di Semarang, Pekalongan dan Tegal tetap tinggal di stasiun tersebut dan akan disediakan kendaraan lain.
Setelah selesai mendata penumpang yang akan turun di Semarang, Pekalongan dan Tegal, kereta akhirnya berjalan kembali menuju stasiun Solo Balapan jam 12.30. Sampai di Stasiun Solo Balapan jam 13.30. Kereta berhenti lama di Stasiun ini sampai jam 14.00 baru kereta kembali melanjutkan perjalanan. Melewati Yogyakarta, Kertosuro, Purwokerto, dan mulai memasuki wilayah Jawa Barat daerah Ciledug sekitar jam 20.00... Sampai akhirnya masuk Stasiun Cirebon tepat jam 21.00. Saya beruntung cuma nyampe Cirebon, gimana yang ke Jakarta??? Nyampe jam berapa mereka??? Sedangkan dari Cirebon ke Jakarta paling gak butuh waktu sekitar 4-5 jam lagi...
Semoga pengalaman ini bisa jadi referensi buat manajemen perkereta apian Indonesia supaya lebih baik lagi dalam melayani masyarakat, dan cepat dalam mengatasi kejadian2 seperti ini sehingga tidak lagi ada yang merasa dirugikan. Terutama pelayanan untuk kereta kelas Ekonomi yang kebanyakan konsumennya adalah masyarakat menengah kebawah. Karena kejadian seperti ini sudah sering terjadi dan pemecahan masalah ini masih belum ada.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar